Kantor Berita Internasional Ahlulbait -ABNA- Sekretaris Jenderal Hizbullah Lebanon, Syekh Naim Qassem, menolak kesepakatan kerangka kerja dan perundingan langsung dengan Israel. Ia menegaskan komitmen Hizbullah terhadap kesepakatan 27 November 2024 yang dibuat dalam kerangka Resolusi Dewan Keamanan PBB 1701.
Menurut Naim Qassem, kawasan saat ini tengah mengalami penataan ulang bersejarah dalam keseimbangan kekuatan. Ia mengatakan Amerika Serikat berupaya memperluas dominasinya dan menciptakan kondisi bagi terwujudnya proyek “Israel Raya”, sementara Iran dan kubu perlawanan berdiri menghadapi berbagai proyek pemecahan wilayah, pendudukan, dan dominasi asing.
Ia mengatakan bahwa meskipun serangan Amerika Serikat dan Israel telah menimbulkan korban serta kerugian besar di Palestina, Lebanon, Iran, Yaman, dan Irak, keduanya tetap tidak berhasil mencapai tujuan mereka. “Pengorbanan inilah yang menghentikan proyek tersebut,” katanya.
Menurutnya, tiga tahun setelah Operasi Badai Al-Aqsa, Israel juga belum berhasil mencapai tujuan-tujuannya, meski telah meninggalkan pembunuhan, kehancuran, dan agresi dalam skala luas.
Kritik terhadap Perundingan Langsung
Syekh Naim Qassem mengkritik kebijakan pemerintah Lebanon dan mengatakan pemerintah telah memilih jalur yang tidak tepat. Menurutnya, jalur tersebut tidak membawa kehormatan bagi pemerintah, Lebanon, maupun pengorbanan rakyat Lebanon. Ia menilai pemerintah Lebanon telah meninggalkan kesepakatan 27 November 2024 dan beralih memasuki perundingan langsung dengan Israel. Qassem mengatakan perundingan tersebut tidak menghasilkan gencatan senjata maupun penarikan pasukan Israel.
Menurutnya, berlanjutnya serangan Israel selama maupun setelah proses perundingan menunjukkan adanya “penyerahan yang memalukan” tanpa Lebanon mendapatkan konsesi apa pun. Sekjen Hizbullah itu menyerukan agar perundingan dilakukan secara tidak langsung dan mengkritik peran Amerika Serikat. “Amerika Serikat dan Israel adalah satu kesatuan. Washington bukan mediator antara Lebanon dan Israel. Harus dicari mediator lain,” ujarnya.
Naim Qassem menegaskan bahwa Hizbullah tidak menginginkan perang. Ia mengatakan gerakannya telah menerima kesepakatan 27 November 2024 yang menekankan penarikan pasukan Israel dari Lebanon selatan dan penempatan tentara Lebanon di kawasan tersebut sesuai Resolusi 1701.
Kesepakatan Kerangka Kerja Dinilai Tidak Sah
Sekjen Hizbullah mengatakan kelompoknya memandang situasi saat ini sebagai agresi terbuka Israel, bukan perang timbal balik, karena menurutnya Israel tetap melanjutkan serangan meskipun Hizbullah mematuhi kesepakatan.
Ia juga mengatakan bahwa mengangkat isu pelucutan senjata Hizbullah justru akan memberikan alasan kepada Israel untuk terus melancarkan serangan.
“Israel akan selalu mengatakan bahwa mereka menginginkan senjata Hizbullah. Yang dimaksud senjata Hizbullah bisa sampai satu butir peluru atau bahkan sebuah pistol. Persoalan ini tidak akan pernah selesai,” katanya.
Qassem menegaskan bahwa Hizbullah akan tetap bertahan di lapangan dan tidak akan menerima berbagai rencana yang diajukan.
Ia menyebut sejumlah capaian perlawanan, antara lain mencegah Israel mencapai Beirut, menggagalkan proyek “Israel Raya”, serta mencegah pemaksaan realitas baru di perbatasan Lebanon.
Terkait rencana pembentukan zona percontohan dan komite verifikasi, Qassem mengatakan Hizbullah menolak gagasan tersebut maupun segala pengaturan yang lahir darinya.
“Kami menolak kesepakatan kerangka kerja dan menuntut agar kesepakatan itu dibatalkan,” tegasnya.
Ia menyebut kesepakatan itu tidak sah, ilegal, dan merendahkan Lebanon. Menurutnya, kesepakatan tersebut merusak kedaulatan Lebanon, tidak mengembalikan hak-hak negara itu, serta berada di luar kerangka hukum, konsensus nasional Lebanon, dan kesepakatan 27 November 2024.
“Kami Tidak Akan Menyerah”
Syekh Naim Qassem kembali menegaskan penolakan Hizbullah terhadap pemberian konsesi oleh Lebanon. Ia mengatakan Hizbullah hanya menerima pelaksanaan kesepakatan 27 November 2024 dalam kerangka Resolusi 1701 dan tidak akan menerima hal lain di luar itu. Kepada para pendukung Hizbullah, ia berjanji gerakannya akan terus memberikan dukungan sosial serta melanjutkan proses rekonstruksi dan perbaikan. Ia meminta para pendukungnya untuk tetap bersabar dan menegaskan bahwa Hizbullah akan terus melakukan perlawanan dan tidak akan menyerah.
Di akhir pidatonya, Qassem mengatakan: “Kami dan kalian berada dalam satu perahu. Sebisa mungkin kami akan terus bersama kalian untuk menjaga kehormatan kalian, mempertahankan keberadaan kalian, memberikan bantuan sosial, serta membantu proses rekonstruksi dan perbaikan.”
Komentar Anda